INDEKS MUSIMAN/VARIASI MUSIM (SEASONAL INDEX)

Standard

 A Comprehensive Guide to Time Series Analysis and Forecasting

Indeks musiman adalah ukuran yang menunjukkan bagaimana suatu musim tertentu dibandingkan dengan rata-rata seluruh musim. Ini adalah alat yang digunakan dalam analisis deret waktu untuk memperhitungkan pola berulang yang terkait dengan musim. Indeks musiman membantu memprediksi dan memahami variasi data yang dipengaruhi oleh faktor musiman.

METODE PERTAMA

METODE RATA-RATA SEDERHANA (SIMPLE AVERAGE METHOD)

Jumlah Permintaan Beras di Pasar Tradisional

Bulan Tahun Rerata
2018 2019 2020 2021 2022
Jan 510 570 630 540 625 575
Feb 475 535 545 550 540 529
Maret 430 600 530 530 500 518
April 400 590 585 480 500 511
Mei 575 490 500 460 510 507
Juni 500 445 475 470 490 476
Juli 450 410 440 600 580 496
Agt 520 600 430 630 665 569
Sep 390 400 470 500 515 455
Okt 425 475 480 515 525 484
Nov 550 500 520 555 600 545
Des 620 639 610 660 711 648

Menghitung Nilai Trend atau nilai koefisien b

Tahun Rata-rata (Y) X X.Y
2018 487.08 -2 4 -974.17
2019 521.17 -1 1 -521.17
2020 517.92 0 0 0.00
2021 540.83 1 1 540.83
2022 563.42 2 4 1126.83
Perhitungan Koefisien Regresi (b)
Langkah 1:
\[ b = \frac{\sum X \cdot Y}{\sum X^2} \]
Langkah 2:
\[ b = \frac{172.33}{10} = 17.23 \]
Langkah 3:
\[ b = \frac{17.23}{12} = 1.44 \]
Hasil akhir: b = 1.44

Hasil Nilai Trend

Bulan Trend (X) Perhitungan Nilai (bX)
Jan 0 0 × 1.44 0
Feb 1 1 × 1.44 1.44
Maret 2 2 × 1.44 2.88
April 3 3 × 1.44 4.32
Mei 4 4 × 1.44 5.76
Juni 5 5 × 1.44 7.20
Juli 6 6 × 1.44 8.64
Agt 7 7 × 1.44 10.08
Sep 8 8 × 1.44 11.52
Okt 9 9 × 1.44 12.96
Nov 10 10 × 1.44 14.40
Des 11 11 × 1.44 15.84

HASIL INDEKS MUSIMAN PERMINTAAN BERAS KURUN WAKTU 5 TAHUN

Bulan Tahun Rerata(1) Trend(2) (1)-(2) IM
2018 2019 2020 2021 2022
Jan 510 570 630 540 625 575 0.00 575.00 110.97
Feb 475 535 545 550 540 529 1.44 527.56 101.81
Maret 430 600 530 530 500 518 2.88 515.12 99.41
April 400 590 585 480 500 511 4.32 506.68 97.78
Mei 575 490 500 460 510 507 5.76 501.24 96.73
Juni 500 445 475 470 490 476 7.20 468.80 90.47
Juli 450 410 440 600 580 496 8.64 487.36 94.06
Agt 520 600 430 630 665 569 10.08 558.92 107.87
Sep 390 400 470 500 515 455 11.52 443.48 85.59
Okt 425 475 480 515 525 484 12.96 471.04 90.91
Nov 550 500 520 555 600 545 14.40 530.60 102.40
Des 620 639 610 660 711 648 15.84 632.16 122.00
* IM = Indeks Musim
* IM Januari = [575.00/518.16] x 100 = 110.97

Grafik Time Series IM



METODE KEDUA

METODE RASIO TERHADAP TREND (RATIO TO TREND METHOD)

Tahun Rata-rata (Y) X X.Y
2018 487.08 -2 4 -974.17
2019 521.17 -1 1 -521.17
2020 517.92 0 0 0.00
2021 540.83 1 1 540.83
2022 563.42 2 4 1126.83
Jumlah 2630.42 0 10 172.33
a =
∑Y n
=
2630.42 5
= 526.08
b =
∑X·Y ∑X²
=
172.33 10
= 17.23

Persamaan Trend Tahunan

Ŷ = 526.08 + 17.23X

Persamaan Trend Bulanan

Ŷ = 526.08 +
17.23 12
X = 526.08 + 1.44X

NILAI X UNTUK BULAN DAN TAHUN

Bulan 2018 2019 2020 2021 2022
Januari -29½ -17½ -5½ 18½
Februari -28½ -16½ -4½ 19½
Maret -27½ -15½ -3½ 20½
April -26½ -14½ -2½ 21½
Mei -25½ -13½ -1½ 10½ 22½
Juni -24½ -12½ 11½ 23½
Juli -23½ -11½ ½ 12½ 24½
Agustus -22½ -10½ 13½ 25½
September -21½ -9½ 14½ 26½
Oktober -20½ -8½ 15½ 27½
November -19½ -7½ 16½ 28½
Desember -18½ -6½ 17½ 29½

Nilai Trend Untuk Setiap Bulan dan Tahun

Bulan 2018 2019 2020 2021 2022
Januari 483.60 500.88 518.16 535.44 552.72
Februari 485.04 502.32 519.60 536.88 554.16
Maret 486.48 503.76 521.04 538.32 555.60
April 487.92 505.20 522.48 539.76 557.04
Mei 489.36 506.64 523.92 541.20 558.48
Juni 490.80 508.08 525.36 542.64 559.92
Juli 492.24 509.52 526.80 544.08 561.36
Agustus 493.68 510.96 528.24 545.52 562.80
September 495.12 512.40 529.68 546.96 564.24
Oktober 496.56 513.84 531.12 548.40 565.68
November 498.00 515.28 532.56 549.84 567.12
Desember 499.44 516.72 534.00 551.28 568.56

Nilai Trend Untuk Bulan Juni Tahun 2020

Ŷ Juni = 526.08 + 1.44 (-½) = 525.36

Nilai Trend Untuk Bulan Juli Tahun 2020

Ŷ Juli = 526.08 + 1.44 (½) = 526.80

Perbandingan dengan Data Asli

Bulan Tahun IM(Rerata)
2018 2019 2020 2021 2022
Januari 105.45 113.80 121.58 100.85 113.08 110.95
Februari 97.93 106.51 104.89 102.44 97.44 101.84
Maret 88.39 119.10 101.72 98.45 89.99 99.53
April 81.98 116.79 111.97 88.93 89.76 97.88
Mei 117.50 96.72 95.43 85.00 91.32 97.19
Juni 101.87 87.58 90.41 86.61 87.51 90.80
Juli 91.42 80.47 83.52 110.28 103.32 93.80
Agustus 105.33 117.43 81.40 115.49 118.16 107.56
September 78.77 78.06 88.73 91.41 91.27 85.65
Oktober 85.59 92.44 90.38 93.91 92.81 91.02
November 110.44 97.03 97.64 100.94 105.80 102.37
Desember 124.14 123.66 114.23 119.72 125.05 121.36
Jumlah 1200

Perbandingan Nilai Asli Bulan Januari 2018

\[Januari 2018 = \frac{510}{483.60} x 100 = 105.45\]

INDEKS HARGA KONSUMEN (IHK)

Standard

 Pengertian Indeks: Tujuan, Jenis, dan Masalah Nomor Indeks - Gramedia  Literasi

Indeks Harga Konsumen (IHK) adalah angka yang menggambarkan perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat secara umum pada suatu waktu terhadap periode waktu tertentu yang telah ditentukan. IHK mengukur rata-rata perubahan harga dari suatu paket komoditas yang dikonsumsi oleh masyarakat/rumah tangga di suatu daerah (urban) dalam kurun waktu tertentu. Presentase perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) bisa bernilai positif atau negatif. Bila persentase perubahan IHK positif dapat dikatakan terjadi inflasi (kenaikan harga eceran secara umum) dan sebaliknya bila persentase perubahan IHK bernilai negatif berarti terjadi deflasi (penurunan harga secara umum).

Kelompok Pengeluaran IHK

Sistematika penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) disusun menurut kelompok pengeluaran yang terbagi dalam 7 sub kelompok:

Kelompok Sub Kelompok
I. Bahan Makanan Padi-padian, umbi umbian, daging, ikan segar, sayuran, buah buahan dll
II. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau Makanan jadi, rokok, tembakau, minuman non dan minuman beralkohol, dll
III. Perumahan Biaya tempat tinggal, bahan bakar, Listrik, air, perlengkapan rumah tangga dll
IV. Sandang Sandang laki-laki dan perempuan dewasa, sandang anak, barang pribadi dll.
V. Kesehatan Jasa kesehatan, obat obatan, jasa perawatan jasmani dan kosmetik
VI. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga Jasa pendidikan, pelatihan, rekreasi dan olahraga
VII. Transportasi dan Komunikasi Jasa keuangan, transportasi, komunikasi dan sarana penunjang transportasi

Rumus Indeks Harga Konsumen (IHK)

Formula yang digunakan untuk menghitung Indeks Harga Konsumen (IHK) di Indonesia adalah Indeks Laspeyres yang telah dimodifikasi. Adapun formula Indeks Laspeyres yang telah dimodifikasi adalah sebagai berikut:

IL = [∑i=1k (Pni/P(n-1)i) × P(n-1)i × Q0i] / [∑i=1k P0i × Q0i] × 100

Keterangan:

  • IL = Indeks harga konsumen bulan/tahun ke n
  • Pni = Harga jenis barang i bulan/tahun ke n
  • P(n-1)i = Harga jenis barang i bulan/tahun ke (n-1)
  • P(n-1)i × Qoi = Nilai konsumsi jenis barang i pada bulan/tahun ke (n-1)
  • Poi × Qoi = Nilai konsumsi jenis barang i pada tahun dasar
  • k = Banyaknya jenis barang paket komoditas dalam sub kelompok

Formula yang lebih sederhana adalah sebagai berikut:

IHK = [∑(Pit × Qio)] / [∑(Pio × Qio)] × 100%

Dimana:

  • Pit = harga barang i pada periode t
  • Qit = bobot barang i pada periode t
  • Pio = harga barang i pada periode dasar o
  • Qio = bobot barang i pada periode dasar o

Contoh Perhitungan IHK

Komoditas Tahun Dasar 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017
Qo Po Po.Qo P1 P1.Qo P2 P2.Qo P3 P3.Qo P4 P4.Qo P5 P5.Qo
Beras 18,85 8.000 150.800 8.300 156.455 8.700 163.995 9.000 169.650 9.400 177.190 9.500 179.075
Makanan jadi, Rokok 16,19 3.000 48.570 3.200 51.808 3.500 56.665 4.000 64.760 4.200 67.998 4.500 72.855
Perumahan 25,37 2.000 50.740 2.400 60.888 3.000 76.110 3.400 86.258 3.500 88.795 4.000 101.480
Sandang 7,25 3.500 25.375 4.000 29.000 4.300 31.175 4.700 34.075 5.000 36.250 5.500 39.875
Kesehatan 4,73 2.000 9.460 2.200 10.406 2.600 12.298 3.000 14.190 3.300 15.609 3.500 16.555
Pendidikan 8,46 7.000 59.220 7.300 61.758 7.800 65.988 8.000 67.680 8.400 71.064 8.500 71.910
Transportasi dan Komunikasi 19,15 15.000 287.250 16.000 306.400 16.500 315.975 17.000 325.550 17.300 331.295 17.500 335.125
Jumlah 631.415 676.715 722.206 762.163 788.201 816.875
Indeks Harga Konsumen 100,00 107,17 114,38 120,71 124,83 129,37
IHK 2013 = (676.715/631.415)×100 = 107,17
IHK 2014 = (722.206/631.415)×100 = 114,38
IHK 2015 = (762.163/631.415)×100 = 120,71
IHK 2016 = (788.201/631.415)×100 = 124,83
IHK 2017 = (816.875/631.415)×100 = 129,37

INFLASI

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat atau adanya ketidak lancaran distribusi barang.

Rumus Inflasi

L(I)n = [In - I(n-1)] / I(n-1) × 100%

INFLASI

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat atau adanya ketidak lancaran distribusi barang.

L(I)n = [In - I(n-1)] / I(n-1) × 100%

Atau

L(I)n = (In/I(n-1) - 1) × 100%

Dengan:

L(I)n = Laju inflasi bulan/tahun ke n
In = Indeks bulan/tahun ke n
I(n-1) = Indeks bulan/tahun (n-1)

INFLASI

Tahun IHK Inflasi
2012 100 0%
2013 107,17 7,17%
2014 114,38 6,72%
2015 120,71 5,53%
2016 124,83 3,42%
2017 129,37 3,64%

L(l) 2013 = (107,17 - 100)/100 × 100 = 7,17
L(l) 2014 = (114,38 - 107,17)/107,17)×100 = 6,72

ANGKA INDEK BERANTAI

Standard

 Pengertian Indeks: Tujuan, Jenis, dan Masalah Nomor Indeks - Gramedia  Literasi

Angka indeks berantai adalah angka indeks yang menggunakan tahun dasar yang berubah-ubah, dengan tahun dasar untuk perhitungan adalah tahun sebelumnya. Ini berbeda dengan angka indeks dengan tahun dasar tetap, di mana tahun dasarnya selalu sama. Indeks berantai berguna untuk melihat perkembangan dari waktu ke waktu, terutama untuk data yang mengalami perubahan signifikan dari tahun ke tahun.

ANGKA INDEKS BERANTAI DAN IHK

PERGESERAN WAKTU DASAR

Pada suatu ketika apabila waktu dasar dari suatu angka indeks dianggap sudah out of date, karena sudah terlalu lama atau terlalu jauh ketinggalan, maka perlu diadakan pergeseran waktu dasar (shifting the base period).

Harga Perdagangan Besar Hasil Pertanian

Harga Perdagangan Besar beberapa Hasil Pertanian di Jakarta (Rupiah per Kuintal), 2000-2016

Tahun Harga Beras (Rp/Kuintal) Harga Jagung Kuning (Rp/Kuintal) Harga Kacang Kedelai (Rp/Kuintal)
2007 539.798 361.667 440.833
2008 552.760 400.000 704.583
2009 546.643 400.000 620.833
2010 677.188 400.000 600.000
2011 724.479 438.542 644.792
2012 873.750 450.000 650.000
2013 882.292 450.000 828.571
2014 935.227 450.000 900.000
2015 1.053.250 450.000 885.000
2016 1.128.056 450.000 750.000

Sumber: Statistik Indonesia, 2017

BPS (Badan Pusat Statistik), Jakarta

Indeks Harga Beras dengan Waktu Dasar Berbeda

Harga Perdagangan Beras di Jakarta (Rupiah per Kuintal), 2000-2016

Tahun Harga Beras (Rp/Kuintal) Indeks Lama (2007=100%) Indeks Baru (2012=100%) Indeks Baru (2014=100%)
2007 539.798 100,00% 61,78% 57,72%
2008 552.760 102,40% 63,26% 59,10%
2009 546.643 101,27% 62,56% 58,45%
2010 677.188 125,45% 77,50% 72,41%
2011 724.479 134,21% 82,92% 77,47%
2012 873.750 161,87% 100,00% 93,43%
2013 882.292 163,45% 100,98% 94,34%
2014 935.227 173,25% 107,04% 100,00%
2015 1.053.250 195,12% 120,54% 112,62%
2016 1.128.056 208,98% 129,11% 120,62%

ANGKA INDEKS BERANTAI (CHAIN INDEX NUMBERS)

Indeks Berantai merupakan salah satu metode penghitungan angka indeks dengan tahun dasar yang digunakan adalah tahun sebelumnya (tahun dasarnya = t – 1) atau dengan kata lain tidak menggunakan tahun dasar dengan tahun tertentu saja.

Misalnya jika akan menghitung indeks untuk tahun 2020 maka tahun dasarnya tahun 2019, indeks untuk tahun 2021 tahun dasarnya tahun 2020, indeks untuk tahun 2022 tahun dasarnya tahun 2021 dan seterusnya.

Indeks Berantai ini digunakan untuk menghadapi keadaan yang tidak stabil atau terjadi fluktuasi dalam perekonomian yang cukup besar. Disamping itu, indeks berantai ini juga sangat bermanfaat untuk melihat perkembangan harga dalam hubungan dengan analisis Benefit and Cost Ratio.

Rumus Angka Indeks Berantai

It,t-1 = [Pt/Pt-1] × 100%

Keterangan:

  • Pt = Harga tahun t
  • Pt-1 = Harga tahun t - 1

Harga Eceran Beras di Beberapa Kota

Harga Eceran Beras di Kota 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Padang 9.878,17 9.620,26 9.558,50 11.712,50 12.258,02 12.789,53
Jakarta 9.929,83 9.037,23 9.447,22 10.027,05 11.732,98 12.413,75
Yogyakarta 7.798,90 7.902,48 8.383,10 9.062,10 9.771,84 10.249,07
Mataram 6.609,87 7.704,52 7.776,14 8.576,47 9.608,00 9.720,53
Kupang 8.058,16 8.435,67 8.921,70 9.127,71 9.999,64 11.084,87
Pontianak 9.116,78 9.828,72 10.326,79 10.814,36 12.012,61 12.477,20
Palangkaraya 10.882,96 11.006,28 10.742,08 12.421,42 14.727,73 13.813,61
Banjarmasin 9.343,89 10.127,24 9.960,22 11.272,31 12.533,07 12.910,90
Samarinda 8.056,50 9.053,94 9.563,21 11.088,35 11.429,31 11.248,34
Makassar 6.706,13 7.501,46 7.565,25 7.690,31 9.040,99 10.666,58

Sumber: Statistik Indonesia, 2017

Contoh Perhitungan Indeks Berantai di Kota Yogyakarta

Tahun Harga Indeks Berantai Hasil Keterangan
2011 7.798,90 - - Tahun Dasar (0%)
2012 7.902,48 (7.902,48/7.798,90)×100% 101,33% Naik 1,33%
2013 8.383,10 (8.383,10/7.902,48)×100% 106,08% Naik 6,08%
2014 9.062,10 (9.062,10/8.383,10)×100% 108,10% Naik 8,10%
2015 9.771,84 (9.771,84/9.062,10)×100% 107,83% Naik 7,83%
2016 10.249,07 (10.249,07/9.771,84)×100% 104,88% Naik 4,88%

Catatan:

I2012 = 2012/2011 = 101,33%

I2013 = 2013/2012 = 106,08%

UKURAN PUSAT DAN LETAK

Standard

 




Salah satu pembahasan dalam statistik adalah mencari suatu angka dimana nilai-nilai dalam suatu distribusi memusat. Angka yang menjadi pusat dari suatu distribusi disebut dengan ukuran gejala pusat. Ukuran gejala pusat merupakan suatu bilangan yang menunjukan sekitar mana bilangan yang ada dalam sekumpulan data tersebar, sehinggga ukuran gejala pusat sering disebut dengan dengan harga rata-rata.Ukuran gejala pusat yang akan dibahas dalam bab ini adalah: Mean (rata-rata hitung), rata-rata ukur, rata-rata harmonik, dan modus. Sementara untuk ukuran letak yang dibahas adalah median, kuartil, desil dan persentil.

Mean atau rata-rata hitung

Istilah mean lazim digunakan dalam statistik, yang dimaksud mean disini adalah rata-rata hitung. Mean atau rata-rata hitung dihitung dengan jalan membagi jumlah nilai data dengan jumlah data. Simbol mean/rata-rata hitung untuk sampel ditulis  (eks garis) sedangkan rata-rata untuk populasi dipakai simbol µ (mu).

Menghitung mean untuk data yang tidak dikelompokan

Jika kita mempunyai data masing-masing nilainya adalah x1, x2, x3 ……xn maka meannya dapat dirumuskan sebagai berikut: 



Atau bisa disingkat dengan rumus:





Dimana:
x = nilai tiap data dan n = jumlah data
simbol Σ disebut “sigma” (huruf Yunani) yang mempunyai arti jumlah.

Contoh 1 : Mean yang tidak tertimbang

Nilai ujian dari 5 orang mahasiswa yang diambil sebagai sampel dari sebuah populasi adalah 80, 80, 75, 95, 100. Tentukan rata-rata nilai ujian kelima orang mahasiswa tersebut. Dengan mengunakan rumus di atas diperoleh hasil sebagai berikut:





Jadi rata-rata nilai ujian dari kelima mahasiswa tersebut adalah 80.

Contoh 2: Mean yang ditimbang

Mean yang ditimbang adalah mean yang memperhitungkan frekuensi tiap-tiap nilai dari variabel. Di bawah ini disajikan data mengenai besarnya pendapatan dari 40 pedagang.








Dari data di atas rata-ratanya dapat dihitung sebagai berikut:

Menghitung mean untuk data yang dikelompokan

Sejauh ini kita telah membahas bagaimana menghitung mean untuk data yang tidak dikelompokan/berdistribusi tunggal. Permasalahan yang timbul apabila kita mempunyai data yang banyak sehingga bila kita hitung dengan distribusi tunggal tidak efisien dan memakan tempat, untuk itu kita kelompokan data yang ada ke dalam distribusi frekuensi seperti dalam pembahasan distribusi frekuensi.  Pada hakekatnya dalam menghitung mean data yang dikelompokan tidak berbeda dengan data yang tidak dikelompokan, perbedaanya nilai X tidak mewakili individu tetapi titik tengah dari kelas interval. Mean  untuk data yang sudah dikelompokan dalam distribusi frekuensi dapat dicari dengan mengunakan rumus:




Dimana:
f      = Frekuensi tiap kelas interval
x     = Titik tengah tiap kelas interval
Σf   = Banyak data

Contoh :

Kita akan menghitung rata-rata  nilai ujian statistik dari 80 mahasiswa yang sudah dibuat distribusi frekuensinya (Materi sebelumnya). untuk keperluan tersebut kita buat tabel seperti berikut ini:



Dari tabel di atas diperoleh Σ fx = 6070,0 dan Σf = 80 dengan mengunakan rumus di atas rata-rata nilai ujian statistik dari 80 mahasiswa adalah:

6070,0/80 = 75,87


MODUS

Modus digunakan untuk menyatakan fenomena yang paling banyak terjadi atau paling banyak ada, ukuran modus disingkat Mo. Untuk keperluan perhitungan kita mengenal dua jenis modus yaitu modus untuk menghitung data yang tidak dikelompokan dan modus untuk menghitung data yang dikelompokan.

Modus untuk data yang tidak dikelompokan

Data yang tidak dikelompokan disebut juga dengan data tunggal, suatu angka atau bilangan yang paling sering terjadi atau suatu nilai frekuensi yang mempunyai frekuensi terbanyak.

Contoh:

Diperoleh data sebagai berikut:

12, 34, 14, 34, 28, 34, 34, 28, 14

Dari data tersebut modusnya adalah nilai 34 karena frekuensinya yang terbanyak, yaitu 4. Dalam beberapa hal bisa saja data tidak mempunyai modus karena tidak ada data yang nilainya terbanyak, Jika data telah disusun dalam tabel distribusi frekuensi, maka untuk mencari modus dapat ditentukan dengan mengunakan rumus sebagai berikut:


Dimana:

b          : batas bawah kelas modal, yaitu kelas interval dengan frekuensi terbanyak.

p          : panjang kelas modal

b1         : frekuensi kelas modal dikurangi frekuensi kelas interval dengan tanda kelas yang lebih kecil sebelum tanda kelas modal

b2         : frekuensi kelas modal dikurangi frekuensi kelas interval dengan tanda kelas yang lebih besar sebelum tanda kelas modal

Contoh :

Kita gunakan data distribusi frekuensi nilai ujian statistik dari 80 mahasiswa kemudian kita hitung modusnya.


NilaiFrekuensi
31 - 402
41 - 504
51 - 606
61 - 7013
71 - 8022
81 - 9018
91 - 10015
Jumlah80

Dari data tersebut dapat diketahui:

Kelas modal = kelas kelima (lihat jumlah frekuensi yang paling banyak)

b = 70,5

b1 = 22 – 13 = 9

b2 = 22 - 18 = 4

p = 10





MEDIAN

Median adalah data yang berada ditengah jika banyak data ganjil, apabila jumlah data genap maka untuk mencari median adalah rata-rata dua nilai yang berada ditengah.

Contoh :

Dari pengukuran tinggi badan 9 orang diperoleh data: 155: 170: 152: 167: 179: 166: 159: 160: 172

Sebelum dicari mediannya maka data harus diurutkan dari yang kecil ke yang besar sehingga diperoleh hasil: 152: 155: 159: 160: 166:167: 170: 170: 172 karena datanya ganjil maka median adalah nilai yang berada ditengah yaitu 166

Contoh :

Dari pengukuran tinggi badan 8 orang diperoleh data: 149: 151: 157: 163: 165: 169: 170: 171

Karena jumlah data genap maka untuk mencari mediannya adalah rata-rata nilai yang ditengah, yaitu:



Untuk data yang telah disusun dalam daftar distribusi frekuensi mediannya dapat dihitung dengan rumus:

Dimana :

b=batas bawah kelas median ialah kelas dimana median akan terletak

p = panjang kelas median

n = banyak data

F = jumlah semua frekuensi dengan tanda kelas lebih kecil dari tanda kelas median

f = frekuensi kelas median

Contoh:

Kita gunakan data distribusi frekuensi nilai ujian statistik dari 80 mahasiswa kemudian kita hitung mediannya

NilaiFrekuensi
31 - 402
41 - 504
51 - 606
61 - 7013
71 - 8022
81 - 9018
91 - 10015
Jumlah80


Setengah dari seluruh data ada 40, jadi median akan terletak dikelas interval kelima, karena sampai dengan ini jumlah frekuensi sudah lebih dari 40. Dari kelas median ini didapat:

b = 70,5

p = 10

f = 22

adapun F = 2+4+6+13 = 25, sehingga mediannya adalah: